Dilema Pendidikan Suku Dayak

Sejarah perjalanan pendidikan suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan mengalami banyak dilema, Pulau kalimantan juga merupakan salah satu Pulau yang sudah ada sejak zaman Purba, Orang-orang asli yang tinggal di Pulau Kalimantan tertulis maknanya merujuk Istilah Dayak. Dayak adalah suku asli Pulau Kalimantan.

Anak Dayak Sekolah Dipedalaman Kalimantan // Photo by Stanislaus Riyanta

Dilema pendidikan suku Dayak ditulis Thambun Anyang (1996: 78) dimana dijelaskan bahwa pada era kolonial, masyarakat suku Dayak tidak memiliki banyak peluang untuk mengenyam dan melanjutkan jenjang pendidikan. Sekolah-sekolah pada masa itu kebanyakan adalah sekolah milik Belanda dan milik kesultanan-kesultanan Melayu.

Bagi orang Dayak yang ingin masuk sekolah yang didirikan kesultanan Melayu, mereka terlebih dahulu harus masuk agama Islam supaya tidak mendapatkan stigma sebagai orang kafir yang suka mengayau (memotong) kepala orang. Tradisi mengayau memang pernah muncul dalam sejarah etnis Dayak, ratusan tahun sebelum kedatangan kolonial Belanda.

Dilema pendidikan masyarakat Adat dayak pada zaman itu diperparah dengan adanya kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang tidak mendukung kemajuan etnis Dayak dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pendidikan pada zaman penjajahan, yang dilaksanakan dan diawasi oleh kesultanan-kesultanan, tidak merangkul orang-orang Dayak.

Orang Dayak ingin melanjutkan pendidikannya mereka dipaksa harus masuk Islam, meninggalkan, identitas kultural, sosial dan agamanya. Selain itu, jika mereka bekerja pada pemerintahan kolonial dan ingin dipromosikan, maka mereka harus terlebih dahulu menanggalkan idenitas Dayak mereka (lihat Djuweng, 1996:6-7).

Hanya sekolah-sekolah milik Gereja Katolik atau Seminari yang relatif bisa menerima etnis Dayak. sehingga tidak heran pada zaman yang sudah maju sekarang ini angka buta huruf untuk golongan tua rasionya lebih besar. Bahkan hingga saat ada dari golongan tua atau orang-orang tua yang masih produktif saat ini tidak pernah merasakan duduk di bangku pendidikan.Ditambah lagi dengan citra-citra negatif yang diasosiasikan dengan orang-orang Dayak masih berlaku hingga sekarang.

Kebudayaan-kebudayaan Dayak telah sangat menderita karena proyek ‘pemberadaban’ yang dilancarkan oleh pemerintah kolonial maupun pemerintah Indonesia yang menerapkan program-program pembangunan. Di dalam wacana-wacana pembangunan dan modenisasi, orang-orang Dayak yang hidup sebagai peladang-peladang berpindah yang terasing masih dikategorikan sebagai suku-suku nomaden yang terbelakang.

2 comments:

  1. Ya, melakukan hal yang baik itu tentunya butuh perjuangan yang sangat mas bro!

    ReplyDelete
  2. @Didi Wirawan Melakukan commentar juga perjuangan setidaknya membaca dulu.... terima kasih sudah berkunjung

    ReplyDelete